Tampilkan postingan dengan label PARIWISATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PARIWISATA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juni 2011

Pasar Terapung Muara Kuin

Pasar Terapung Muara Kuin adalah pasar terapung tradisional yang berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.[1] Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung, sebutan perahu dalam bahasa Banjar. Pasar ini mulai setelah salat Subuh sampai selepas pukul tujuh pagi. Matahari terbit memantulkan cahaya di antara transaksi sayur-mayur dan hasil kebun dari kampung-kampung sepanjang aliran sungai Barito dan anak-anak sungainya.

Para pedagang wanita yang berperahu menjual hasil produksinya sendiri atau tetangganya disebut dukuh, sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan. Keistemewaan pasar ini adalah masih sering terjadi transaksi barter antar para pedagang berperahu, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk.
Kini pasar terapung Kuin dipastikan menyusul punah berganti dengan pasar darat. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Kuin harus menelan kekecewaan karena tidak menjumpai adanya geliat eksotisme pasar di atas air.
Kepunahan pasar tradisional di daerah "seribu sungai" ini dipicu oleh kemaruk budaya darat serta ditunjang dengan pembangunan daerah yang selalu berorientasi kedaratan. Jalur-jalur sungai dan kanal musnah tergantikan dengan kemudahan jalan darat. Masyarakat yang dulu banyak memiliki jukung, sekarang telah bangga memiliki sepeda motor atau mobil.

Dengan menyaksikan panoramanya, wisatawan seakan-akan sedang tamasya. Jukung-jukung dengan sarat muatan barang dagangan sayur mayur, buah-buahan, segala jenis ikan dan berbagai kebutuhan rumah tangga tersedia di pasar terapung. Ketika matahari mulai muncul berangsur-angsur pasar pun mulai menyepi, sang pedagang pun mulai beranjak meninggalkan pasar terapung membawa hasil yang diperoleh dengan kepuasan.
Suasana pasar terapung yang unik dan khas adalah berdesak-desakan antara perahu besar dan kecil saling mencari pembeli dan penjual yang selalu berseliweran kian kemari dan selalu oleng dimainkan gelombang sungai barito. Pasar terapung tidak memiliki organisasi seperti pada pasar di daratan, sehingga tidak tercatat berapa jumlah pedagang dan pengunjung atau pembagian pedagang bersarkan barang dagangan.
Pasar terapung 300x225 Wisata pasar terapung muara kuin di kota Banjarmasin
Para pedagang wanita yang berperahu menjual hasil produksinya sendiri atau tetangganya disebut dukuh, sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan. Keistemewaan pasar ini adalah masih sering terjadi transaksi barter antar para pedagang berperahu, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk, sesuatu yang unik dan langka.

Pasar Terapung Muara Kuin merupakan salah satu bentuk pola interaksi jualbeli masyarakat yang hidup di atas air. Pasar ini dimulai setelah shalat Subuh dan akan berakhir ketika matahari telah beranjak naik atau sekitar jam 09.00 Wita. Apabila lewat dari jam tersebut, maka sudah dapat dipastikan bahwa pasar bakal sepi. Hal ini dikarenakan para pedagang telah berpencar menyusuri sungai-sungai kecil, untuk menjual barang dagangnya kepada penduduk yang rumahnya berada di bantaran sungai.
Pasar terapung ini sudah ada lebih dari 400 tahun lalu dan merupakan sebuah bukti aktivitas jual-beli manusia yang hidup di atas air. Seperti halnya pasar-pasar yang ada di daratan, di pasar terapung ini  juga dilakukan transaksi jual beli barang seperti sayur-mayur, buah-buahan, segala jenis ikan, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya. Pembelian dari tangan pertama disebut dukuh, sedangkan tangan kedua  yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan. 
Namun sayang, kondisi aktraktif aktivitas jual-beli di atas perahu tersebut  semakin lama semakin pudar pamornya, baik karena jumlah jumlah pedagang yang semakin  sedikit, sikap penjual yang tidak lagi cukup bersahabat, ataupun kurangnya  dukungan dari pemerintah Kota Banjarmasin. Kebijakan pemerintah membangun pasar di darat dekat dengan Pasar Terapung Kuin dan pembangunan ratusan jembatan  rendah yang menghalangi akses lalu lintas sungai, baik langsung atau tidak,  merupakan salah satu penyebab semakin memudarnya aktivitas jual-beli di  floating market ini.
Keistemewaan pasar ini adalah masih sering terjadi transaksi barter antar para pedagang berperahu, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk, sesuatu yang unik dan langka.
Mengunjungi Pasar Terapung Muara Kuin akan memberikan kenangan tak  terlupakan tentang bagaimana masyarakat yang hidup di atas air memenuhi  kebutuhan hidupnya. Selain itu, pengunjung juga akan mengetahui pola transaksi  jualbeli yang telah berumur lebih dari 400 tahun. Oleh karenanya, pasar ini menjadi saksi bisu perjalanan aktivitas ekonomi masyarakat Kalimantan Selatan. Sehubungan denngan hal tersebut, maka muncul pameo belum ke Banjarmasin jika belum mengunjungi Floating Market Muara Kuin.
Salah satu keunikan dari Pasar Terapung adalah desak-desakan antara perahu besar dan perahu kecil yang mencari pembeli, serta penjual yang bersliweran kesana kemari dan kapalnya yang dimainkan gelombang Sungai Barito. Pasar terapung tidak memiliki organisasi seperti pasar di daratan, sehingga tidak tercatat berapa jumlah pedagang dan pengunjung atau pembagian pedagang bersarkan barang dagangan.
Suasana berdesak-desakan antara perahu besar di pasar  terapung ini cukup unik dan khas. Para pengemudi jukung dengan mahirnya mengayuh dan mengejar pembeli atau penjual yang berseliweran kian kemari dan perahu mereka kerap oleng dimainkan gelombang Sungai Barito. Bagi wisatawan yang datang dari kota-kota besar, akan merasakan sensasi tersendiri ketika mengamati pedagang wanita dengan topi lebarnya berperahu  menjual hasil kebun atau makanan olahannya sendiri.
Pasar terapung tidak memiliki organisasi seperti pada  pasar di daratan, sehingga tidak tercatat berapa jumlah pedagang dan pengunjung,  pembagian pedagang berdasarkan barang dagangan, dan tempat berjualan yang  selalu berpindah-pindah.
Bagi pengunjung yang hanya ingin bersantai, bisa menikmati secangkir teh  atau kopi, plus makanan/kue khas Banjar, sembari menikmati goyangan ombak yang  menerpa klotok yang ditumpangi. Pengunjung juga dapat menyaksikan rumah-rumah terapung (Rumah Lanting) yang berada di  sepanjang pinggiran sungai.

Suasana yang rame, unik, khas tersebut yang dapat menjadikan pemandangan yang sungguh mengasyikkan bagi yang pertama kali menyaksikan hal tersebut. Tidak jarang banyak pengunjung dari luar Kalimantan yang datang kesana untuk melihat dan menyaksikan pemandangan tersebut yang unik sekaligus langka. Mungkin hanya satu-satunya pasar terapung yang ada di Indonesia yang melakukan jaul belinya di atas jukung-jukung yang saling merapat satu sama lainnya untuk menjaring pembelinya sebanyak mungkin. Entah mulai kapan kegiatan ini ada, atas dasar apa, dan siapa yang memparkarsainya? Kenapa saya ajukkan pertanyaan tersebut demikian karena seandainya tidak ada lagi lahan yang kosong untuk mendirikan sebuah pasar di tanah Banjar menurut saya tidak mungkin. Karena lahan kosong yang masih belum dibangun masih sangat banyak yang sangat berpotensial untuk sebuah atau puluhan pasarpun masih mampu. Namun hal tersebut hanya sebuah pertanyaan saja yang menurut saya ada jawaban atau tidak ada jawaban untuk sementara waktu tidak jadi masalah. Toh mengapa harus dipermasalahkan keberadaannya. Tapi itulah keunikan yang dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi kota Banjar.

Ini tentunya harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah setempat untuk tetap melestarikan pasar tersebut supaya tetap ada dan bertahan. Perlunya mendata berapa banyak penjual dan pembeli yang ada serta terlibat dalam kegiatan tersebut. Adanya data yang jelas sehingga masyarakat juga boleh mengetahuinya. Ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi Banjar karena dapat di jadikan objek wisata yang akan menarik banyak pengunjung, tentunya akan meningkatkan pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata disamping objek-objek wisata yang lainnya seperti pemandangan alam, makam para raja, wisata pulau, jembatan barito, kesenian daerah, ukiran. Semua ini akan membantu menggerakan perekonomian rakyat sehingga kemajuan kota akan tercapai sesuai dengan program pemerintah. Hal tersebut tentunya berawal dari hal-hal yang kecil dan harus dilakukan secara bersama-sama secara terus-menerus. Kemajuan akan terjadi apabila rakyat mendukung program pemerintah daerah demikian juga pemerintah memperhatikan apa yang menjadi keinginan rakyatnya.

Lokasi, Pasar Terapung Muara Kuin terletak di aliran Sungai Barito, tepatnya di muara Sungai Kuin, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Bajarmasin, Kalimantan Selatan.

Cara Akses kesana? Jika  berangkat dari pusat Kota Banjarmasin dengan menggunakan perahu mesin  atau yang biasa disebut klotok, diperlukan waktu sekitar 45 menit untuk  menuju pasar yang berada di aliran Sungai Barito tersebut. Jika ingin lebih cepat sampai, pengunjung dapat menggunakan angkutan darat dengan menempuh rute Kota Banjarmasin  Desa Alalak. Dari Desa Alalak menuju lokasi Pasar Terapung yang jaraknya tidak begitu jauh pengunjung bisa mencarter klotok dengan harga Rp 70.000,00 (tergantung bisa tidaknya pencarter menawar harga). Dengan menyewa klotok, pengunjung tidak hanya bisa menyaksikan aktivitas di floating market, tetapi  juga bakal diajak berwisata ke Pulau Kembang.

Tiket dan akomodasi : Tidak ada biaya masuk. Di tempat ini tersedia tempat penyewaan perahu klotok, rumah makan, warung-warung penjual makanan dan minumana ringan. Selain itu, di pasar ini  para pengunjung dapat bermalam di Rumah-Rumah Lanting yang berjejer di pinggir  sungai.

Sabtu, 04 Juni 2011

MASJID SULTAN SURIANSYAH

Masjid Sultan Suriansyah atau Masjid Kuin adalah sebuah masjid bersejarah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid ini dibangun di masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550), raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam.[1] Masjid Kuin merupakan salah satu dari tiga masjid tertua yang ada di kota Banjarmasin pada masa Mufti Jamaluddin (Mufti Banjarmasin), masjid yang lainnya adalah Masjid Besar (Masjid Jami) dan Masjid Basirih.[2] Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin Utara, Banjarmasin, kawasan yang dikenal sebagai Banjar Lama merupakan situs ibukota Kesultanan Banjar yang pertama kali. Masjid ini letaknya berdekatan dengan komplek makam Sultan Suriansyah dan di seberangnya terdapat sungai kuin.

Bentuk arsitektur dengan konstruksi panggung dan beratap tumpang, merupakan masjid bergaya tradisional Banjar. Masjid bergaya tradisional Banjar pada bagian mihrabnya memiliki atap sendiri terpisah dengan bangunan induk. Masjid ini didirikan di tepi sungai Kuin.

Masjid Kuno

Kekunoan masjid ini dapat dilihat pada 2 buah inskripsi yang tertulis pada bidang berbentuk segi delapan berukuran 50 cm x 50 cm yakni pada dua daun pintu Lawang Agung. Pada daun pintu sebelah kanan terdapat 5 baris inskripsi Arab-Melayu berbunyi : " Ba'da hijratun Nabi Shalallahu 'alahihi wassalam sunnah 1159 pada Tahun Wawu ngaran Sultan Tamjidillah Kerajaan dalam Negeri Banjar dalam tanah tinggalan Yang mulia." Sedangkan pada daun pintu sebelah kiri terdapat 5 baris inskripsi Arab-Melayu berbunyi: "Kiai Damang Astungkara mendirikan wakaf Lawang Agung Masjid di Nagri Banjar Darussalam pada hari Isnain pada sapuluh hari bulan Sya'ban tatkala itu (tidak terbaca)" . Kedua inskripsi ini menunjukkan pada hari Senin tanghgal 10 Sya'ban 1159 telah berlangsung pembuatan Lawang Agung (renovasi masjid) oleh Kiai Demang Astungkara pada masa pemerintahan Sultan Tamjidillah I (1734-1759).

Pada mimbar yang terbuat dari kayu ulin terdapat pelengkung mimbar dengan kaligrafi berbunyi "Allah Muhammadarasulullah". Pada bagian kanan atas terdapat tulisan "Krono Legi : Hijrah 1296 bulan Rajab hari Selasa tanggal 17", sedang pada bagian kiri terdapat tulisan : "Allah subhanu wal hamdi al-Haj Muhammad Ali al-Najri".


Filosofi Ruang

Pola ruang pada Masjid Sultan Suriansyah merupakan pola ruang dari arsitektur Masjid Agung Demak yang dibawa bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah ini oleh Khatib Dayan. Arsitektur mesjid Agung Demak sendiri dipengaruhi oleh arsitektur Jawa Kuno pada masa kerajaan Hindu. Identifikasi pengaruh arsitektur tersebut tampil pada tiga aspek pokok dari arsitektur Jawa Hindu yang dipenuhi oleh masjid tersebut. Tiga aspek tersebut : atap meru, ruang keramat (cella) dan tiang guru yang melingkupi ruang cella. Meru merupakan ciri khas atap bangunan suci di Jawa dan Bali. Bentuk atap yang bertingkat dan mengecil ke atas merupakan lambang vertikalitas dan orientasi kekuasaan ke atas. Bangunan yang dianggap paling suci dan dan penting memiliki tingkat atap paling banyak dan paling tinggi. Ciri atap meru tampak pada Masjid Sultan Suriansyah yang memiliki atap bertingkat sebagai bangunan terpenting di daerah tersebut. Bentuk atap yang besar dan dominan, memberikan kesan ruang dibawahnya merupakan ruang suci (keramat) yang biasa disebut cella. Tiang guru adalah tiang-tiang yang melingkupi ruang cella (ruang keramat). Ruang cella yang dilingkupi tiang-tiang guru terdapat di depan ruang mihrab, yang berarti secara kosmologi cella lebih penting dari mihrab.

KOMPLEK MAKAM SULTAN SURIANSYAH

Informasi umum
Lokasi Banjarmasin, Indonesia
Alamat Jalan Kuin Utara, Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin Utara, Banjarmasin
Koordinat 3°17′35.01″S 114°34′21.68″E
Kompleks Makam Sultan Suriansyah adalah sebuah kompleks pemakaman yang terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Sultan Suriansyah
Sultan Suriansyah merupakan raja Kerajaan Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Sewaktu kecil namanya adalah Raden Samudera, setelah diangkat menjadi raja namanya menjadi Pangeran Samudera dan setelah memeluk Islam namanya menjadi Sultan Suriansyah. Gelar lainnya adalah Panembahan atau Susuhunan Batu Habang.

Sejarah pemugaran Komplek Makam Sultan Suriansyah
Studi kelayakan dalam rangka pemugaran dilakukan oleh sebuah tim yang dipimpin Drs. Machi Suhadi dengan biaya dari Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kalimantan Selatan 1982/1983.

Kegiatan Pemugaran

Pemugaran situs dimulai tahun 1984/1985. Sasaran pokonya ialah memugar makam-makam kuno dan pentrasiran pondasi batu bata,

Pemugaran makam kuno terurai atas kegiatan: memperkuat pagar bagian bawah dengan slof beton, membersihkan dan membetulkan letak nisan makam, memperkuat dan merapikan letak marmer makam, memperbaiki ukira-ukiran yang rusak dan mengembalikan cat makam seperti warna semula.
Kegiatan pentrasiran menampakan adanya dua kelompok susunan batu bata/tanggul dengan warna yang berbeda. Kelompok tanggul dengan batu bata merah merupakan pengaman bagi kestabilan makam Sultan Suriansyah dan Ratu, makam Khatib Dayan, makam Patih Masih, makam Patih Kuin, Makam hulubaklang raja dan lain-lain. Kelompok tanggul ini terdapat pada bagian barat dengan ukuran 17 x 17 meter.

Kelompok tanggul dengan batu bata putih merupakan pengaman bagi kestabilan makam Sultan Rahmatullah dan Makam Sultan Hidayatullah. Kelompok tanggul ini terdapat di bagian timur dengan ukuran 17 x 17 meter. Pada bagian timur sisi selatan ditemukan susunan tanggul batu bata putih yang diberi hiasan/ukiran.

Pemugaran situs tahun 1985/1986 diarahkan pada kegiatan penyusunan kembali batu bata tanggul dan membangun cungkup yang baru menggantikan cungkup lama yang didirikan pada tahun 1985.

Tokoh-tokoh yang dimakamkan

* Sultan Suriansyah
Sultan Suriansyah berasal dari keturunan raja-raja Kerajaan Negara Daha. Ia merupakan Raja Banjar pertama yang memeluk Islam, dan sejak beliaulah agama Islam berkembang resmi dan pesat di Kalimantan Selatan. Untuk pelaksanaan dan penyiaran agama Islam beliau membangun sebuah masjid yang dikenal sebagai Masjid Sultan Suriansyah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Menurut sarjana Belanda J.C. Noorlander bahwa berdasarkan nisan makam, maka umur kuburan dapat dihitung sejak lebih kurang tahun 1550, berarti Sultan Suriansyah meninggal pada tahun 1550, sehingga itu dianggap sebagai masa akhir pemerintahannya. Ia bergelar Susuhunan Batu Habang.
Menurut M. Idwar Saleh bahwa masa pemerintahan Sultan Suriansyah berlangsung sekitar tahun 1526-1550. Sehubungan dengan hal ini juga dapat menetapkan bahwa hari jadi kota Banjarmasin jatuh pada tanggal 24 September 1526.

* Ratu Intan Sari
Ratu Intan Sari atau Puteri Galuh adalah ibu kandung Sultan Suriansyah. Ketika itu Raden Samudera baru berumur 7 tahun dengan tiada diketahui ayahnya Raden Manteri Jaya menghilang, maka tinggallah Raden Samudera bersama ibunya. Pada masa itu Maharaja Sukarama, raja Negara Daha berwasiat agar Raden Samudera sebagai penggantinya ketika ia mangkat. Tatkala itu pula Raden Samudera menjadi terancam keselamatannya, berhubung kedua pamannya tidak mau menerima wasiat, yaitu Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung, karena kedua orang ini sebenarnya kemenakan Sukarama. Ratu Intan Sari khawatir, lalu Raden Samudera dilarikan ke Banjar Masih dan akhirnya dipelihara oleh Patih Masih dan Patih Kuin. Setelah sekitar 14 tahun kemudian mereka mengangkatnya menjadi raja (berdirinya kerajaan Banjar Masih/Banjarmasin). Ratu Intan Sari meninggal pada awal abad ke-16.

* Sultan Rahmatullah
Sultan Rahmatullah putera Sultan Suriansyah, beliau raja Banjar ke-2 yang bergelar Susuhunan Batu Putih. Masa pemerintahannya tahun 1550-1570.

Makam Sultan Rahmatullah.

* Sultan Hidayatullah
Sultan Hidayatullah, raja Banjar ke-3, cucu Sultan Suriansyah. Ia bergelar Susuhunan Batu Irang. Masa pemerintahannya tahun 1570-1595. Ia senang memperdalam syiar agama Islam. Pembangunan masjid dan langgar (surau) telah banyak didirikan dan berkembang pesat hingga ke pelosok perkampungan.

* Khatib Dayan
Pada tahun 1521 datanglah seorang tokoh ulama besar dari Kerajaan Demak bernama Khatib Dayan ke Banjar Masih untuk mengislamkan Raden Samudera beserta sejumlah kerabat istana, sesuai dengan janji semasa pertentangan antara Kerajaan Negara Daha dengan Kerajaan Banjar Masih. Khatib Dayan merupakan keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon, Jawa Barat. Ia menyampaikan syiar-syiar Islam dengan kitab pegangan Surat Layang Kalimah Sada di dalam bahasa Jawa. Ia seorang ulama dan pahlawan yang telah mengembangkan dan menyebarkan agama Islam di Kerajaan Banjar sampai akhir hayatnya.

* Patih Kuin
Patih Kuin adalah kepala kampung Kuin yang bertetangga dengan kampung Banjarmasih. Ketika itu ia telah menemukan Raden Samudera dan memeliharanya sebagai anak angkat. Pada masa beliau keadaan negerinya aman dan makmur serta hubungan dengan Jawa sangat akrab dan baik. Ia meninggal pada awal abad ke-16.

* Patih Masih
Patih Masih adalah kepala kampung Banjarmasih. Ia juga dipanggil Kiai Masih dan sebagai adik dari Patih Muhur.[2] Ia pemimpin orang-orang Melayu yang sangat bijaksana, berani dan sakti. Ia memimpin di daerah Banjar Masih secara turun temurun. Ia keturunan Patih Simbar Laut yang menjabat Sang Panimba Segara, salah satu anggota Manteri Ampat. Ia meninggal sekitar awal abad ke-16.

* Senopati Antakusuma
Senopati Antakusuma adalah cucu Sultan Suriansyah. Ia seorang panglima perang di Kerajaan Banjar dan sangat pemberani yang diberi gelar Hulubalang Kerajaan. Ia meninggal pada awal abad ke-16.

* Syekh Abdul Malik
Syekh Abdul Malik atau Haji Batu merupakan seorang ulama besar di Kerajaan Banjar pada masa pemerintahan Sultan Rahmatullah. Ia meninggal pada tahun 1640.

* Haji Sa'anah
Wan Sa'anah berasal dari keturunan Kerajaan Brunei Darussalam. Ia menikah dengan Datu Buna cucu Kiai Marta Sura, seorang menteri di Kerajaan Banjar. Semasa hidupnya Wan Sa'anah senang mengaji Al-Qur'an dan mengajarkan tentang keislaman seperti ilmu tauhid dan sebagainya. Ia meninggal pada tahun 1825.

* Pangeran Ahmad
Pangeran Ahmad merupakan seorang senopati Kerajaan Banjar di masa Sultan Rahmatullah, yang diberi tugas sebagai punggawa atau pengatur hulubalang jaga. Ia sangat disayangi raja dan dipercaya. Ia meninggal pada tahun 1630.

* Pangeran Muhammad
Pangeran Muhammad adalah adik kandung Pangeran Ahmad, juga sebagai senopati Kearton di masa Sultan Hidayatullah I. Ia meninggal pada tahun 1645.

* Sayyid Ahmad Iderus
Sayyid Ahmad Iderus adalah seorang ulama dari Mekkah yang datang ke Kerajaan Banjar bersama-sama Haji Batu (Syekh Abdul Malik). Ia menyampaikan syiar-syiar agama Islam dan berdakwah di tiap-tiap masjid dan langgar (surau). Ia meninggal pada tahun 1681.

* Gusti Muhammad Arsyad
Gusti Muhammad Arsyad putera dari Pangeran Muhammad Said. Ia meneruskan perjuangan kakeknya Pangeran Pangeran Antasari melawan penjajah Belanda. Ia kena tipu Belanda, hingga diasingkan ke Cianjur beserta anak buahnya, setelah meletus perang dunia, ia dipulangkan ke Banjarmasin. Ia meninggal pada thaun 1938.

* Kiai Datu Bukasim
Kiai Datu Bukasim merupakan seorang menteri di Kerajaan Banjar. Ia keturunan Kiai Marta Sura, yang menjabat Sang Panimba Segara (salah satu jabatan menteri). Ia meninggal pada tahun 1681.

* Anak Tionghoa Muslim
Pada permulaan abad ke-18, seorang Tionghoa datang berdagang ke Banjarmasin. Ia berdiam di Kuin Cerucuk dan masuk Islam sebagai muallaf. Tatkala itu anaknya bermain-main di tepi sungai, hingga jatuh terbawa arus sampai ke Ujung Panti. Atas mufakat tetua di daerah Kuin, mayat anak itu dimakamkan di dalam komplek makam Sultan Suriansyah.

SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Komplek_Makam_Sultan_Suriansyah

MUSEUM WASAKA

Museum Wasaka adalah sebuah museum perjuangan rakyat Kalimantan Selatan. Wasaka singkatan dari Waja Sampai Ka Puting yang merupakan motto perjuangan rakyat Kalimantan Selatan.

Museum bertempat pada rumah Banjar Bubungan Tinggi yang telah dialih fungsikan dari hunian menjadi museum sebagai upaya konservasi bangunan tradisional.

Terletak di Gang H. Andir, Kampung Kenanga Ulu, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.
Pistol VOC koleksi Museum Wasaka di Banjarmasin.

Museum Kerajaan Kalimantan Tengah : Yang Terletak di Banjarmasin

Informasi umum
Lokasi Banjarmasin, Indonesia
Alamat Jalan Lingkar Utara, Kelurahan Sungai Jingah, Banjarmasin Utara, Banjarmasin
Koordinat 3°18′13.87″S 114°36′32.65″E

SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Wasaka

KUBAH SURGI MUFTI

Kubah Surgi Mufti adalah makam dari seorang ulama bernama Haji Jamaluddin yang pernah menjadi mufti di Banjarmasin dan mendapat gelar anumerta Surgi Mufti (almarhum= surgi (Banjar)/swargi (Jawa). Kubah berasal dari bahasa Arab "qubbah" yaitu cungkup makam. Makam ini terdapat di Kelurahan Surgi Mufti, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.


Makam Surgi Mufti KH Jamaluddin di Banjarmasin

Sengaja Pintu Kubah Dibiarkan Terbuka

KH Jamaluddin yang berkubah di Kelurahan Surgi Mufti merupakan tokoh yang diangkat di masa Sultan Adam sebagai Sultan di kerajaan Banjar semasa jaman penjajahan Belanda. Kubah ini sekarang merupakan salah satu cagar budaya di Banjarmasin.

HAIRIYADI, Banjarmasin

SATU benda cagar budaya yang terletak di Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin Utara, adalah makam Surgi Mufti KH Jamaluddin bin Syeh Muhammad Arsyad Al Banjari (Datuk Kelampayan).
Kubah Mufti Jamaluddin di Jl Surgi Mufti RT 12 ini dirawat dan dipelihara oleh seorang perempuan bersama Hj Siti Khadijah. Di depan kubah di bagian kanan diletakkan dua plang, menandakan cagar budaya yang dilindungi. Bertuliskan nama tempat dan larangan merusak benda cagar budaya itu, dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Kebudayaan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Budaya. Kubah beratapkan sirap berdinding dilapisi hijau, selain ditempati Mufti Jamaluddin, juga ada tiga makam lainnya.
Ditemui Selasa (10/8) siang, Hj Siti Khadijah menuturkan, ketiga makam yaitu satu di sebelah kiri adalah Hj Siti Aisyah, istri KH Jamaluddin dan dua di kanan merupakan anak KH Jamaluddin.
Kemudian, di dekat makam, ditempatkan satu buku besar yang disediakan khusus untuk para tamu mengisi buku tamu. “Buku tamu itu diberikan oleh Pemkot Banjarmasin. Setiap tamu yang datang diminta mengisi buku tamu,” katanya.
Diceritakan dia perihal KH Jamaluddin yang disapanya dengan sebutan abah (bapak). KH Jamaluddin hidup semasa KH Muhammad Syarwani Abdan (Guru Bangil). Kemana-mana beliau selalu bersama. Tidak saja menuntut ilmu dan serumah di Makkah, tapi makan juga bersama.
“Tidak hanya serumah, ibaratnya makan pun sekenceng (sepanci),” ujar perempuan berusia lanjut tersebut.
Tak ada warisan harta benda yang ditinggalkan kepada anak cucu, selain ilmu dan buku-buku pelajaran agama Islam. “Misalnya kitab gundul,” imbuh cetusnya, yang tinggal persis di belakang kubah mufti.
Sudah barang tentu sebagai juriat Datuk Kelampayan, almarhum KH Zaini Abdul Ghani (Guru Sekumpul) dan KH Anang Dzajouly Semman, masih ada hubungan kekerabatan dengan KH Jamaluddin.
Satu hal selalu dilakukan Siti Khadijah yang mempunyai bapak kandung bersaudara KH Jamaluddin ini, ialah pintu kubah dibiarkan terbuka. “Jendela haja (saja) ditutup, pintunya biar terbuka. Kalu (kalau) ada urang (orang) yang handak (mau) banaung (berteduh),” sebutnya.
Informasi yang dihimpun dari beberapa sumber, ada dua mufti KH Jamaluddin. Di Kelampayan dan di Sungai Jingah. Silsilah KH Jamaluddin yang berkubah di Sungai Jingah dan hidup di jaman Belanda ini, menurut Abu Daudi, lebih dikenal dengan sebutan Tuan Guru H Surgi Mufti.
Tuan Guru H Surgi Mufti atau Mufti Jamaluddin adalah cicit Datuk Kelampayan dari garis istri keenam, bernama Ratu Aminah binti Pangeran Thaha (seorang bangsawan Kerajaan Banjar). Silsilahnya, Mufti Jamaluddin bin Zalekha binti Pangeran Mufti H. Ahmad bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Diangkat menjadi mufti oleh pemerintah Belanda, berkedudukan di Banjarmasin pada tahun 1896. Beliau wafat pada tanggal 8 Muharram 1348 H (1902) dan dimakamkan di depan rumah beliau di Jl Surgi Mufti Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin Utara. Masyarakat Kalsel mengenalnya dengan nama “Kubah Sungai Jingah”.

KOMPLEK MAKAM PANGERAN ANTASARI

Komplek Makam Pangeran Antasari adalah sebuah kompleks pemakaman Pahlawan Nasional Pangeran Antasari dan kerabatnya, yang terletak di Kelurahan Antasan Kecil Timur, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Tokoh-tokoh yang dimakamkan Disana:

* Pangeran Antasari, Pahlawan nasional Indonesia
* Ratu Antasari, isteri Pangeran Antasari
* Panglima Batur, panglima perang Banjar, pengikut setia Sultan Muhammad Seman dari kalangan suku Bakumpai.
* Hasanuddin H.M. (Hasanuddin bin Haji Madjedi), pahlawan ampera (amanat penderitaan rakyat) daerah ini, dia mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin yang wafat tahun 1966.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites